STRATEGI PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING
Oleh : Miftakhuddin, S.Ag. MA
A. Latar Belakang
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak
didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan
belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran hendaknya
memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar.
Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki
keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain. Oleh karena
itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual
anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merobah kondisi
anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi
paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik. Kondisi riil
anak seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan
pendidik. Hal ini terlihat dari perhatian sebagian guru/pendidik yang
cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau
kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian.
Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan
metode pengajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas
berlangsung.
Pembelajaran yang kurang memperhatikan
perbedaan individual anak dan didasarkan pada keinginan guru, akan sulit
untuk dapat mengantarkan anak didik ke arah pencapaian tujuan
pembelajaran. Kondisi seperti inilah yang pada umumnya terjadi pada
pembelajaran konvensional. Konsekuensi dari pendekatan pembelajaran
seperti ini adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang
cerdas dan anak yang kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam
belajar, sehingga sistem belajar tuntas terabaikan. Hal ini membuktikan
terjadinya kegagalan dalam proses pembelajaran di sekolah.
Menyadari kenyataan seperti ini para ahli berupaya untuk mencari dan
merumuskan strategi yang dapat merangkul semua perbedaan yang dimiliki
oleh anak didik. Strategi pembelajaran yang ditawarkan adalah strategi
belajar aktif (active learning strategy).
B. Strategi Pembelajaran Aktif (Active Learning Strategy)
1. Pengertian
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan
penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua
anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan
karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran
aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian
siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian anak didik berkurang
bersamaan dengan berlalunya waktu. Penelitian Pollio (1984) menunjukkan
bahwa siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40%
dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sementara penelitian McKeachie
(1986) menyebutkan bahwa dalam sepuluh menit pertama perthatian siswa
dapat mencapai 70%, dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit
terakhir.
Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang sering terjadi di
lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi kegagalan
dalam dunia pendidikan kita, terutama disebabkan anak didik di ruang
kelas lebih banyak menggunakan indera pendengarannya dibandingkan
visual, sehingga apa yang dipelajari di kelas tersebut cenderung untuk
dilupakan. Sebagaimana yang diungkapkan Konfucius:
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya lihat, saya ingat
Apa yang saya lakukan, saya paham
Ketiga pernyataan ini menekankan pada pentingnya belajar aktif agar apa
yang dipelajari di bangku sekolah tidak menjadi suatu hal yang sia-sia.
Ungkapan di atas sekaligus menjawab permasalahan yang sering dihadapi
dalam proses pembelajaran, yaitu tidak tuntasnya penguasaan anak didik
terhadap materi pembelajaran.
Mel Silberman (2001) memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius di
atas menjadi apa yang disebutnya dengan belajar aktif (active
learning), yaitu :
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit
Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham
Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan
Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai
Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa
kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu
jawaban yang menarik adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan
bicara guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang
disampaikan guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per
menit, sementara anak didik hanya mampu mendengarkan 50-100 kata per
menitnya (setengah dari apa yang dikemukakan guru), karena siswa
mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir. Kerja otak manusia tidak
sama dengan tape recorder yang mampu merekam suara sebanyak apa yang
diucapkan dengan waktu yang sama dengan waktu pengucapan. Otak manusia
selalu mempertanyakan setiap informasi yang masuk ke dalamnya, dan otak
juga memproses setiap informasi yang ia terima, sehingga perhatian tidak
dapat tertuju pada stimulus secara menyeluruh. Hal ini menyebabkan
tidak semua yang dipelajari dapat diingat dengan baik.
Penambahan visual pada proses pembelajaran dapat menaikkan ingatan
sampai 171% dari ingatan semula. Dengan penambahan visual di samping
auditori dalam pembelajaran kesan yang masuk dalam diri anak didik
semakin kuat sehingga dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan
hanya menggunakan audio (pendengaran) saja. Hal ini disebabkan karena
fungsi sensasi perhatian yang dimiliki siswa
saling menguatkan, apa yang didengar dikuatkan oleh penglihatan
(visual), dan apa yang dilihat dikuatkan oleh audio (pendengaran). Dalam
arti kata pada pembelajaran seperti ini sudah diikuti oleh
reinforcement yang sangat membantu bagi pemahaman anak didik terhadap
materi pembelajaran.
Penelitian mutakhir tentang otak menyebutkan bahwa belahan kanan korteks
otak manusia bekerja 10.000 kali lebih cepat dari belahan kiri otak
sadar. Pemakaian bahasa membuat orang berpikir dengan kecepatan kata.
Otak limbik (bagian otak yang lebih dalam) bekerja 10.000 kali lebih
cepat dari korteks otak kanan, serta mengatur dan mengarahkan seluruh
proses otak kanan. Oleh karena itu sebagian proses mental jauh lebih
cepat dibanding pengalaman atau pemikiran sadar seseorang (Win Wenger,
2003:12-13). Strategi pembelajaran konvensional pada umumnya lebih
banyak menggunakan belahan otak kiri (otak sadar) saja, sementara
belahan otak kanan kurang diperhatikan. Pada pembelajaran dengan Active
learning (belajar aktif) pemberdayaan otak kiri dan kanan sangat
dipentingkan.
Thorndike (Bimo Wagito, 1997) mengemukakan 3 hukum belajar, yaitu :
1. law of readiness, yaitu kesiapan seseorang untuk berbuat dapat memperlancar hubungan antara stimulus dan respons.
2. law of exercise, yaitu dengan adanya ulangan-ulangan yang selalu dikerjakan maka hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lancar
3. law of effect, yaitu hubungan antara stimulus dan respons akan
menjadi lebih baik jika dapat menimbulkan hal-hal yang menyenangkan,
dan hal ini cenderung akan selalu diulang.
Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pemberian stimulus-stimulus
kepada anak didik, agar terjadinya respons yang positif pada diri anak
didik. Kesediaan dan kesiapan mereka dalam mengikuti proses demi proses
dalam pembelajaran akan mampu menimbulkan respons yang baik terhadap
stimulus yang mereka terima dalam proses pembelajaran. Respons akan
menjadi kuat jika stimulusnya juga kuat. Ulangan-ulangan terhadap
stimulus dapat memperlancar hubungan antara stimulus dan respons,
sehingga respons yang ditimbulkan akan menjadi kuat. Hal ini akan
memberi kesan yang kuat pula pada diri anak didik, sehingga mereka akan
mampu mempertahankan respons tersebut dalam memory (ingatan) nya.
Hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik kalau dapat
menghasilkan hal-hal yang menyenangkan. Efek menyenangkan yang
ditimbulkan stimulus akan mampu memberi kesan yang mendalam pada diri
anak didik, sehingga mereka cenderung akan mengulang aktivitas tersebut.
Akibat dari hal ini adalah anak didik mampu mempertahan stimulus dalam
memory mereka dalam waktu yang lama (longterm memory), sehingga mereka
mampu merecall apa yang mereka peroleh dalam pembelajaran tanpa
mengalami hambatan apapun.
Active learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat
dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran,
sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak
menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dengan memberikan strategi
active learning (belajar aktif) pada anak didik dapat membantu ingatan
(memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan
pembelajaran dengan sukses. Hal ini kurang diperhatikan pada
pembelajaran konvensional.
Dalam metode active learning (belajar aktif) setiap materi pelajaran
yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman
yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif
dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar murid dapat belajar secara aktif
guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna sedemikian rupa,
sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar.
(Mulyasa, 2004:241)
Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa perbedaan antara pendekatan
pembelajaran Active learning (belajar aktif) dan pendekatan pembelajaran
konvensional, yaitu :
Pembelajaran konvensional Pembelajaran Active learning
Berpusat pada guru Berpusat pada anak didik
Penekanan pada menerima pengetahuan Penekanan pada menemukan
Kurang menyenangkan Sangat menyenangkan
Kurang memberdayakan semua Membemberdayakan semua
indera danpotensi anak didik indera dan potensi anak didik
Menggunakan metode yang monoton Menggunakan banyak metode
Kurang banyak media yang digunakan Menggunakan banyak media
Tidak perlu disesuaikan dengan Disesuaikan dengan
Pengetahuan yang sudah ada pengetahuan yang sudah ada
Perbandingan di atas dapat dijadikan bahan
pertimbangan dan alasan untuk menerapkan strategi pembelajaran active
learning (belajar aktif) dalam pembelajaran di kelas.
Selain itu beberapa hasil penelitian yang ada menganjurkan agar anak
didik tidak hanya sekedar mendengarkan saja di dalam kelas. Mereka perlu
membaca, menulis, berdiskusi atau bersama-sama dengan anggta kelas yang
lain dalam memecahkan masalah. Yang paling penting adalah bagaimana
membuat anak didik menjadi aktif, sehingga mampu pula mengerjakan
tugas-tugas yang menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi,
seperti menganalisis, membuat sintesis dan mengevaluasi. Dalam konteks
ini, maka ditawarkanlah strategi-strategi yang berhubungan dengan
belajar aktif. Dalam arti kata menggunakan teknik active learning
(belajar aktif) di kelas menjadi sangat penting karena memiliki pengaruh
yang besar terhadap belajar siswa.
2. Aplikasi Active learning (belajar aktif) dalam Pembelajaran
L. Dee Fink (1999) mengemukakan model active learning (belajar aktif) sebagai berikut.
Dialog dengan diri sendiri adalah proses di mana anak
didik mulai berpikir secara reflektif mengenai topik yang dipelajari.
Mereka menanyakan pada diri mereka sendiri mengenai apa yang mereka
pikir atau yang harus mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan mengenai
topik yang dipelajari. Pada tahap ini guru dapat meminta anak didik
untuk membaca sebuah jurnal atau teks dan meminta mereka menulis apa
yang mereka pelajari, bagaimana mereka belajar, apa pengaruh bacaan
tersebut terhadap diri mereka.
Dialog dengan orang lain bukan dimaksudkan sebagai dialog parsial
sebagaimana yang terjadi pada pengajaran tradisional, tetapi dialog yang
lebih aktif dan dinamis ketika guru membuat diskusi kelompok kecil
tentang topik yang dipelajari.
Observasi terjadi ketika siswa memperhatikan atau mendengar seseorang
yang sedang melakukan sesuatu hal yang berhubungan dengan apa yang
mereka pelajari, apakah itu guru atau teman mereka sendiri
Doing atau berbuat merupakan aktivitas belajar di mana siswa berbuat
sesuatu, seperti membuat suatu eksperimen, mengkritik sebuah argumen
atau sebuah tulisan dan lain sebagainya.
Ada banyak metode yang dapat digunakan dalam menerapkan active learning
(belajar aktif) dalam pembelajaran di sekolah. Mel Silberman (2001)
mengemukakan 101 bentuk metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran
aktif. Kesemuanya dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas sesuai
dengan jenis materi dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai oleh anak.
Metode tersebut antara lain Trading Place (tempat-tempat perdagangan),
Who is in the Class?(siapa di kelas), Group Resume (resume kelompok),
prediction (prediksi), TV Komersial, the company you keep (teman yang
anda jaga), Question Student Have (Pertanyaan Peserta Didik),
reconnecting (menghubungkan kembali), dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan ini penulis mencoba menyajikan beberapa model pembelajaran aktif yang disajikan Silberman.
Question Student Have (Pertanyaan Peserta Didik)
Metode Question Student Have ini digunakan untuk mempelajari tentang
keinginan dan harapan anak didik sebagai dasar untuk memaksimalkan
potensi yang mereka miliki. Metode ini menggunakan sebuah teknik untuk
mendapatkan partisipasi siswa melalui tulisan. Hal ini sangat baik
digunakan pada siswa yang kurang berani mengungkapkan pertanyaan,
keinginan dan harapan-harapannya melalui percakapan.
Prosedur :
1. Bagikan kartu kosong kepada siswa
2. Mintalah setiap siswa menulis beberapa pertanyaan yang mereka miliki
tentang mata pelajaran atau sifat pelajaran yang sedang dipelajari
3. Putarlah kartu tersebut searah keliling jarum jam. Ketika setiap
kartu diedarkan pada peserta berikutnya, peserta tersebut harus
membacanya dan memberikan tanda cek di sana jika pertanyaan yang sama
yang mereka ajukan
4. Saat kartu kembali pada penulisnya, setiap peserta telah memeriksa
semua pertanyaan yang diajukan oleh kelompok tersebut. Fase ini akan
mengidentifikasi pertanyaan mana yang banyak dipertanyakan. Jawab
masing-masing pertanyaan tersebut dengan :
a. Jawaban langsung atau berikan jawaban yang berani
b. Menunda jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai waktu yang tepat
c. Meluruskan pertanyaan yang tidak menunjukkan suatu pertanyaan
5. Panggil beberapa peserta berbagi pertanyaan secara sukarela, sekalipun pertanyaan mereka tidak memperoleh suara terbanyak
6. Kumpulkan semua kartu. Kartu tersebut mungkin berisi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dijawab pada pertemuan berikutnya.
Variasi :
1. Jika kelas terlalu besar dan memakan waktu saat memberikan kartu pada
siswa, buatlah kelas menjadi sub- kelompok dan lakukan instruksi yang
sama. Atau kumpulkan kartu dengan mudah tanpa menghabiskan waktu dan
jawab salah satu pertanyaan
2. Meskipun meminta pertanyaan dengan kartu indeks, mintalah peserta
menulis harapan mereka dan atau mengenai kelas, topik yang akan anda
bahas atau alasan dasar untuk partisipasi kelas yang akan mereka amati.
3. Variasi dapat pula dilakukan dengan meminta peserta untuk memeriksa
dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh kelompok tersebut,
sehingga fase ini akan dapat mengidentifikasi pertanyaan mana yang
mendapat jawaban terbanyak, sebagai indikasi penguasaan anak terhadap
objek yang dipertanyakan.
Reconnecting (menghubungkan kembali)
Metode reconnecting (menghubungkan kembali) ini digunakan untuk
mengembalikan perhatian anak didik pada pelajaran setelah beberapa saat
tidak melakukan aktivitas tersebut.
Prosedur :
1. Ajaklah anak didik kembali kepada pelajaran. Jelaskan pada anak didik
bahwa menghabiskan beberapa menit untuk mengaitkan kembali pelajaran
dengan pengetahuan anak akan memberi makna yang berarti.
2. Tentukan satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan berikut ini kepada para peserta didik :
• Apa saja yang masih anda ingat tentang pelajaran terakhir kita ? apa saja yang masih bertahan dalam diri anda ?
• Sudahkah anda membaca / berpikir /melakukan sesuatu yang dirangsang oleh pelajaran terakhi kita ?
• Pengalaman menarik apa yang telah anda miliki di antara pelajaran-pelajaran?
• Apa saja yang ada dalam pikiran anda sekarang (misal nya sebuah
kekhawatiran) yang mungkin mengganggu kemampuan anda untuk memberi
perhatian pebuh terhadap pelajaran hari ini?
• Bagaimana perasaan anda hari ini? (Dapat dilakukan dengan memberikan metafor, seperti “Saya merasa bagaikan pisang busuk
3. Dapatkan respons dengan menggunakan salah satu format, seperti sub-kelompok atau pembicara dengan urutan panggilan berikutnya
4. Hubungkan dengan topik sekarang
Variasi :
1. Lakukan sebuah ulasan tentang pelajaran yang telah lalu
2. Sampaikan dua pertanyaan, konsep atau sejumlah informasi yang
tercakup dalam pelajaran yang lalu. Mintalah peserta didik untuk
memberikan suara terhadap sesuatu yang paling mereka sukai agar anda
mengulas pelajaran tersebut. Ulaslah pertanyaan, konsep, atau informasi
yang menang.
Pengajaran Sinergetik (Synergetic Teaching)
Metode ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada siswa
membandingkan pengalaman-pengalaman (yang telah mereka peroleh dengan
teknik berbeda) yang mereka miliki.
Prosedur :
a. Bagi kelas menjadi dua kelompok
b. Salah satu kelompok dipisahkan ke ruang lain untuk membaca topik pelajaran
c. Kelompok yang lain diberikan materi pelajaran yang sama dengan metode yang diinginkan oleh guru.
d. Pasangkan masing-masing anggota kelompok pembaca dan kelompok
penerima materi pelajaran dari guru dengan tugas menyimpulkan/meringkas
materi pelajaran.
Kartu Sortir (Card Sort)
Metode ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk
mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu objek, atau
mengulangi informasi.
Prosedur :
a. Masing-masing siswa diberikan kartu indek yang berisi materi
pelajaran. Kartu indek dibuat berpasangan berdasarkan definisi,
kategori/kelompok, misalnya kartu yang berisi aliran empiris dengan
kartu pendidikan ditentukan oleh lingkungan dll. Makin banyak siswa
makin banyak pula pasangan kartunya.
b. Guru menunjuk salah satu siswa yang memegang kartu, siswa yang lain
diminta berpasangan dengan siswa tersebut bila merasa kartu yang
dipegangnya memiliki kesamaan definisi atau kategori.
c. Agar situasinya agak seru dapat diberikan hukuman bagi siswa yang
melakuan kesalahan. Jenis hukuman dibuat atas kesepakatan bersama.
d. Guru dapat membuat catatan penting di papan tulis pada saat prosesi terjadi.
TRADING PLACE
Metode ini memungkinkan peserta didik lebih mengenal, tukar menukar
pendapat dan mempertimbangkan gagasan, nilai atau pemecahan baru
terhadap berbagai masalah.
Prosedur :
1. beri peserta didik satu atau lebih catatan-catatan Post-it (tentukan
apakah kegiatan tersebut akan berjalan lebih baik dengan membatasi para
peserta didik terhadap sebuah atau beberapa kontribusi)
2. mintalah mereka untuk menulis dalam catatan merea salah satu dari hal berikut :
a. sebuah nilai yang mereka pegang
b. sebuah pengalaman yang telah mereka miliki saat ini
c. sebuah ide atau solusi kreatif terhadap sebuah problema yang telah anda tentukan
d. sebuah pertanyaan yang mereka miliki mengenai persoalan dari mata pelajaran
e. sebuah opini yang mereka pegang tentang sebuah topik pilihan anda
f. sebuah fakta tentang mereka sendiri atau persoalan pelajaran
3. mintalah peseta didik menaruh (menempelkan) catatan tersebut pada
pakaian mereka dan mengelilingi ruangan dengan atau sambil membaca tiap
catatan milik peserta yang lain
4. kemudian, suruhlah para peserta didik berkumpul sekali lagi dan
mengasosiasikan sebuah pertukaran catatan-catatan yang telah diletakkan
pada tempatnya (trade of Post-it notes) satu sama lain. Pertukaran itu
hendaknya didasarkan pada sebuah keinginan untuk memiliki sebuah nilai,
pengalaman, ide, pertanyaan, opini atau fakta tertentu dalam waktu yang
singkat. Buatlah aturan bahwa semua pertukaran harus menjadi dua jalan.
Doronglah peserta didik untuk membuat sebanyak mungkin pertukaran yang
mereka sukai.
5. kumpulkan kembali kelas tersebut dan mintalah para peserta didik
berbagi pertukaran apa yang mereka buat dan mengapa demikian. (misalnya :
Mita : “Saya menukar catatan dengan Sonya karena dia telah membuat
catatan tentang perjalanan ke Eropa Timur. Saya menyukai perjalanan ke
sana karena saya mempunyai nenek moyang yang berasal dari Hongaria dan
Ukraina
WHO IN THE CLASS?
Metode ini digunakan untuk memecahkan kebekuan suasana dalam kelas.
Teknik ini lebih mirip dengan perburuan terhadap teman-teman di kelas
daripada terhadap benda. Strategi ini membantu perkembangan pembangunan
team (team building) dan membuat gereakan fisik berjalan tepat pada
permulaan gerakan fisik berjalan tepat pada permulaan sebuah perjalanan.
Prosedur:
1. Buatlah 6 sampau 10 pertanyaan deskriptif untuk melengkapi frase : Carilah seseorang yang…………
Suka/senang menggambar
Mengetahui apa yang dimaksud rebonding
Mengira bahwa hari ini akan hujan
Berperilaku baik
Telah mengerjakan PR
Punya semangat kuat dalam belajar
dll
2. Bagikan pernyataan-pernyataan itu kepada peserta didik dan berikah beberapaperintah berikut :
Kegiatan ini seperti sebuah perburuan binatang, kecuali bahwa anda
mencari orang sebagai pengganti benda. Ketika saya berkata “mulai”
kelilingilah ruangan dengan mencari orang-orang yang cocok dengan
pernyataan ini. Anda bisa menggunakan masing-masing orang hanya untuk
sebuah pernyataan, meskipun dia memiliki kecocokan lebih dari satu.
Tulislah nama orang tersebut
3. ketika kebanyakan peserta didik telah selesai, beri tanda stop berburu dan kumpulkan kembali ke kelas.
4. guru dapat menawarkan sebuah hadiah penghargaan teradap orang yang
selesai pertama kali. Yang lebih penting surveilah kelas tersebut.
Kembangkan diskusi singkat tentang beberapa bagian yang mungkin
merangsang perhatian dalam topik pelajaran.
Resume kelompok
Teknik resume secara khusus menggambarkan sebuah prestasi , kecakapan
dan pencapaian individual, sedangkan resume kelompok merupakan cara yang
menyenangkan untuk membantu para peserta didi lebih mengenal atau
melakukan kegiatan membangun tem dari sebuah kelompok yang para
anggotanya telah mengenal satu sama lain.
Prosedur :
1. Bagilah peserta didik ke dalam kelompok sekitar 3 sampai 6 anggota
2. beritahukan kelas itu bahwa kelas berisi sebuah kesatuan bakat dan pengalaman yang sangat hebat
3. sarankan bahwa salah satu cara untuk mengenal dan menyampaikan sumber mata pelajaran adalah dengan membuat resume kelompok.
4. berikan kelompok cetakan berita dan penilai untuk menunjukkan resume
mereka. Resume tersebut seharusnya memasukkan beberapa informasi yang
bisa menjual kelompok tersebut secara keseluruhan. Data yang disertakan
bisa berupa :
latar belakang pendidikan; sekolah-sekolah yang dimasuki
pengetahuan tentang isi pelajaran
pengalaman kerja
posisi yang pernah dipegang\keterampilan-keterampilan
hobby, bakat, perjalanan, keluarga
prestasi-prestasi
5. ajaklah masing-masing kelompok untuk menyampaikan resumenya
PREDICTION (PREDIKSI)
Metode ini dapat membantu para siswa menjadi kenal satu sama lain
Prosedur :
1. bentuklah sub-sub kelompok dari 3 sampai 4 orang siswa (yang relatif masih asing satu sama lain)
2. beritahukan pada peserta didik bahwa pekerjaan mereka adalah
meramalkan bagaimana masing-masing orang dalam kelompoknya akan menjawab
pertanyaan tertentu yang telah dipersiapkan untuk mereka, seperti :
a. kamu menyukai musik apa?
b. Apa di antara kegiatan waktu luang favorit anda?
c. Berapa jam kamu bisa tidur malam?
d. Berapa saudara kandung yang kamu miliki dan kamu berada pada urutan berapa?
e. Di mana kamu dibesarkan?
f. Seperti apa kamu ketika masih kecil?
g. Apakah orang tua kamu bersikap toleran atau ketat?
h. Pekerjaan apa yang telah kamu miliki?
3. mintalah sub-sub kelompok mulai dengan memilih satu orang sebagaoi
subyek pertamanya. Dorong anggota kelompok se spesifik mungkin dalam
prediksi mereka mengenai orang itu. Beritahukan mereka agar tidak takut
tentang tebakan-tebakan yang berani.
4. mintalah masing-masing anggota kelompok bergiliran sebagai orang fokus/utama.
Tv Komersial
Metode ini dapat menghasilkan pembangunan team (team building) yang cepat
Prosedur :
1. bagilah peserta didik ke dalam team yang tidak lebih dari 6 anggota
2. mintalah team-team membuat iklan TV 30 detik yang meniklankan masalah
pelajaran dengan menekankan nilainya bagi meraka atau bagi dunia
3. iklan hendaknya berisi sebuah slogan (sebagai contoh “Lebih baik
hidup dengan ilmu Kimia”) dan visual (misalnya, produk-produk kimia
terkenal)
4. jelaskan bahwa konsep umum dan sebuah outline dari iklan tersebut
sesuai. Namun jika team ingin memerankan iklannya, hal tersebut baik
juga.
5. sebelum masing-masing team mulai merencanakan iklannya, maka
diskusikan karakteristik dari beberapa iklan yang saat ini terkenal
untuk merangsang kreatifitas (misalnya penggunaan sebuah kepribadian
terkenal, humor, perbandingan terhadap persaingan, daya tarik sex)
6. mintalah masing-masing team menyampaikan ide-idenya. Pujilah kreatifitas setiap orang.
The Company You Keep
Metode ini digunakan untuk membantu siswa sejak awal agar lebih mengenal
satu sama lain aktivitas kelas bergerak dengan cepat dan amat
menyenangkan.
Prosedur :
1. buatlah datar kategori yang anda pikir mungkin tepat dalam sebuah
kegiatan untuk lebih mengenal pelajaran yang anda ajar.
Kategori-kategori tersebut meliputi :
a. bulan kelahiran
b. orang yang suka atau tidak suka suatu objek
c. kesukaan seseorang
d. tangan yang digunakan untuk menulis
e. warna sepatu
f. setuju atau tidak dengan beberapa pernyataan opini tentang sebuah isi
hangat (misalnya “Jaminan pemeliharaan kesehatan hendaknya bersifat
universal”)
Catatan: Kategori dapat pula dikaitkan langsung dengan materi pelajaran yang diajarkan
2. bersihkan ruang lantaiagar peserta didik dapat berkeliling dengan bebas
3. sebutkan sebuah kategori. Arahkan para peserta didik untuk menentukan
secepat mungkin semua orang yang akan mereka kaitkan dengan kategori
yang ada. Misal para penulis dengan tangan kanan dan penulis dengan
tangan kiri akan terpisah menjadi dua bagian.
4. ketika para peserta didik telah membentuk kelompok-kelompok yang
tepat, mintalah mereka berjabatan tangan dengan teman yang mereka jaga.
Ajaklah semua untuk mengamati dengan tepat berapa banyak otang yang ada
di dalam kelompok-kelompok yang berbeda.
5. lanjutkan segera pada kategori berikutnya. Jagalah peserta didik
tetap bergerak dari kelompok ke kelompok ketika anda mengumumkan
kategori-kategori baru.
6. kumpulkan kembali seluruh kelas. Diskusikan perbedaan peserta didik yang muncul dari latihan itu. (http://edu-articles.com/)
DAFTAR BACAAN
Bonwell, Charles C., dan James A. Eison, Active Learning: Creating Excitement in the Classroom, http://www.gwu.edu/eriche.
Dee Fink, L., Active Learning, reprinted with permission of the Oklahoma Instructional Development Program, 1999, http://www.edweb.sdsu.edu/people/bdodge/Active/ActiveLearning.html
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, Rineka Cipta, 2002.
McKeachie W., Teaching Tips: A Guidebook for the Beginning College Teacher, Boston, D.C. Health, 1986.
Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Konsep, Karakteristik dan Implementasi, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2004.
Pollio, H.R., “What Students Think About and Do in
College Lecture Classes” dalam Teaching-Learning Issues No. 53,
Knoxville, Learning Research Centre, University of Tennesse, 1984.
Silberman, Mel, Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (terjemahan Sarjuli et al.) Yogyakarta, YAPPENDIS, 2004.
Walgito, Bimo, Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta, Andi Offset, 1997.
Wenger, Win, Beyond Teaching and Learning, Memadukan
Quantum Teaching & Learning, (terjemahan Ria Sirait dan Purwanto),
Nuansa, 2003.
Yamin, Martinis, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, Jakarta, Gaung Persada Press, 2003.