a


322

Selasa, 02 Juli 2013

Cara Menarik Perhatian Melalui Senyum

Dikatakan bahwa senyum adalah salah satu pemberian termurah dan terindah. Dikatakan termurah karena Anda tidak perlu mengeluarkan uang untuk terlihat menarik melaui seutas senyum. Dan dikatakan indah karena membuat wajah Anda setingkat lebih menarik daripada sebelum Anda tersenyum. Inilah alasan mengapa sebagian orang tersenyum manis saat mereka difoto, saat mereka berkenalan atau sekadar menyebrang di jalan. Senyum merupakan perhiasan alami pada diri Anda. Hanya saja, Anda tidak akan tersenyum lepas dengan kondisi mulut, gigi dan nafas yang tidak mengenakkan. Kalau Anda saja tidak merasa enak, bagaimana denga orang lain. Sekarang, waktunya memelajari cara menarik perhatian melalui senyuman;
1. Rajin Menggosok Gigi
Cara pertama yang dapat Anda lakukan adalah dengan rutin menggosok gigi. Usahakan menggunakan pasta gigi berfluoride. Gunakan pula sikat gigi elektrik yang ternyata terbukti secara medis mampu bekerja lebih efektif ketimbang sikat gigi manual. Karena sikat gigi dilengakpi dengan pengatur waktu dan lebih efesien untuk menjangkau gigi bagian dalam dan bagian luar. Flouride dapat memperkuat struktur gigi dan mencegah kerusakan. Sikat gigi setidaknya dua kali setiap harinya. Dengan begini, Anda dapat tersenyum lebih bebas.

2. Membersihkan Lidah
Lidah merupakan salah satu tempat aktifnya bakteri berkumpul di mulut Anda. Setelah melakukan cara pertama yakni menggosok gigi, kini saatnya membersihkan lidah Anda. Anda dapat menggunakan alat pembersih lidah seperti tongue scrapper. Jangan pula menggosok lidah dengan keras-keras, itu hanya akan menambah masalah baru; luka pada lidah.
3. Segarkan Nafas Anda
Selain dapat menjaga kesehatan mulut, obat kumur membuat nafas Anda menjadi segar dan wangi. Pada obat kumur itu pula, terdapat kandungan fluoride yang berfungsi seperti pasta gigi yang Anda gunakan saat Anda menggosok gigi. Berkumur dengan obat kumur dapat menjangkau plak-plak yang tidak dapat dijangkau oleh sikat gigi.
4. Konsumsi Permen
Untuk mendapatkan aroma segar pada mulut Anda juga dapat mengunyah permen mint. Menyehatkan mulut Anda, mudah pelaksanaanya dan Anda terlihat lebih keren dan menarik. Sekarang, sudah banyak tersedia permen karet yang mengandung zat-zat yang baik untuk kesehatan mulut dan gigi Anda.
5. Senyuman dari Hati
Anda mungkin berkata bagaimana dapat mengukur senyuman berasal dari hati atau tidak? Hal itu sangat subyektif, bukan? Karena subyketivitas itu pula, maka yang dapat mengukurnya adalah pribadi Anda masing-masing. Senyuman yang berasal dari hati membuat perasaan Anda tenang dan senang. Karena tidak dapat dimungkiri, ada beberapa senyum yang tujuannya manipulatif belaka.
6. Senyuman dengan Menatap
Akan terlihat rancu saat Anda tersenyum dengan tidak menatap orang yang Anda berikan senyum. Kalau bukan Anda terkesan juling, Anda akan dianggap sedikit mengalami ganguan psikologi atau kejiwaan.
Selamat tersenyum! broooowwww

Cara Meningkatkan Daya Ingat

Sebuah penelitian menginformasikan bahwa manusia hanya menggunakan 10% dari daya kerja otaknya. Inilah jawaban mengapa Anda sering lupa dimana terkahir kali menaruh barang-barang seperti kunci, pensil atau kaos kaki. Hal yang sama juga dialami oleh peserta ujian yang lupa akan materi yang baru saja mereka pelajari. Yang paling parah adalah saat seorang pemateri lupa mengenai materi yang akan disampaikannnya. Cari saja pada layanan pencarian seperti google. Maka jawaban mendasar dari pertanyaan tersebut adalah karena Anda lupa. Dalam bukunya, The Magic of Speaking, Dale Carnegie menjelaskan bahwa manusia, secerdas apapun ia, sebanyak apapun buku yang ia tulis, baca dan persentasikan perlahan akan lupa mengenai semua materi tersebut. Berikut ini kami paparkan cara untuk meningkatkan daya ingat Anda;
1. Menyukai Materi Pelajaran
Secerdas apapun pemateri yang mengajar atau sepenting apapun materi yang akan dipelajari bukanlah sebuah jaminan kepastiaan bahwa materi akan tertanam di ingatan. Karenanya, minat atau perasaan senang dan suka terhadap materi pelajaran adalah salah satu cara untuk meningkatkan daya ingat. Kamera paling mutakhir dan paling canggihpun tak akan sanggup menangkap obyek yang kabur atau tidak jelas. Begitu pula daya ingat, tak akan sanggup menangkap materi yang kabur atau tidak jelas. Pemateri harus tampil menarik agar disukai oleh peserta. Peserta juga harus berusaha menghadirkan ketertarikan atau rasa senang dan suka terhadap materi pelajaran.
2. Belajar dengan Rutin
Salah satu ujian untuk dapat menjadi mahasiswa pada Universitas al-Azhar di Mesir adalah harus menghafal kitab suci Al-qur’an. Kitab setebal 3 buku pada umumnya ini menjadi pusat konsentrasi agar dapat terhafalkan. Dengan membaca secara berulang-ulang kitab suci tersebut, mengamalkan isi dan menjiwainya. Para calon mahasiswa menjadi aktivitas tersebut sebagai rutinitas. Belajar 10 menit setiap harinya tapi rutin adalah lebih efektif ketimbang baca satu harian penuh kemudian tidak pernah mengulanginya lagi. Untuk dapat ahli dalam suatu bidang, Anda harus rutin menekuni bidang tersebut. Anda mesti sudah melakukannya lebih dari 10.000 jam. Dengan rutin melakukan sesuatu, Anda menjadi ahli. Termasuk ahli dalam meningkatkan daya ingat.
3. Mempertautkan Obyek Hafalan
Anda juga dapat meningkatkan daya ingat Anda dengan mencari hubungan obyek hafalan atau mempertautkan obyek yang satu dengan obyek yang lain. Misalnya Anda ingin menghafal surah al-Ankabut ayat 45. Tautkan kata kabut dangan tahun kemerdekaan Indonesia, tahun 1945 atau akrab disebut tahun 45. Sehingga ketika kedua kata atau obyek tersebut digabung akan menjadi kabut 45. Anda juga dapat mempertautkan gambar dan angka. Seperti pepatah China; “ satu gambar memuat seribu makna. “

5 Cara Mengajarkan Anak Gemar Membaca

Pepatah lawas yang berbunyi ala bisa karena biasa betul-betul manjur. Suatu hal yang Anda ulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan itulah Anda akan menjadi bisa atau ahli dalam bidang tersebut. Sayangnya, kebiasaan-kebiasaan yang sangat efektif seperti membaca sangatlah sulit dibiasakan. Apalagi bagi anak-anak. Tidak ada yang mengatakan bahwa menjadikan kebiasaan membaca itu mudah saja. Tapi itu bukan alasan bagi Anda untuk tidak membiasakannya pada anak Anda. Darinya itu, berikut ini kami paparkan beberapa cara untuk mengajari anak gemar membaca;
1. Membacakan Anak dengan Metode Bercerita
Siapa yang tidak suka dengan kisah? Lebih dari setengah isi kitab suci memuat dan menceritakan kisah. Orang-orang primitif mengelilingi api unggun untuk mendengarkan kisah. Anak-anak muda berbondong-bondong ke toko buku untuk membeli buku kisah (novel atau komik). Bacakan anak Anda suatu bacaan yang memuat kisah dan sampaikan dengan metode bercerita. Jangan larut dalam bacaan. Sesekali, bertanyalah pada anak Anda. Buat anak Anda seakan berada di dalam kisah tersebut.
2. Manfaatkan Banyak Media
Belikan anak Anda buku-buku yang menarik perhatian, baik warna dan ukurannya. Atau Anda juga bisa memberikan mereka cerita-cerita yang dikemas dalam bentuk audio, CD atau DVD. Perlahan, saat mereka sudah tertarik dengan cerita dan tulisan, mereka akan tertarik pula dengan membaca.
3. Jadilah Teladan di Depan Mereka
Jangan hanya memberi contoh. Tapi jadilah contoh tersebut. Anak Anda adalah cermin diri Anda. Manalah mungkin Anda memaksa anak Anda untuk membaca sementara Anda tengah bermalas-malasan menonton sinetron. Jika anak ingin anak Anda gemar membaca, gemarlah pula dengan membaca. Dan lakukan itu di depan mereka. Perlihatkan mereka betapa banyaknya manfaat membaca buku. Atau bahkan Anda dapat mengajaknya berdiskusi mengenai buku yang baru saja Anda baca. Dengan bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak, tentunya.
4. Gemar Membaca melalui Kegiatan Menulis
Saat anak Anda sudah bersekolah, mereka tentu sudah pandai membaca. Walau kepandaiannya tidak diikuti dengan kegemaran membaca. Anda dapat mengajak anak Anda untuk menuliskan cerita tentang apa saja yang dialaminya seharian di sekolah dan di tempat bermain. Semacam diari atau buku harian. Awalnya mungkin agak sulit. Tapi setelah terbiasa, mereka akan menyadari bahwa mereka sulit menulis karena jarang membaca.
5. Memberikannya Hadiah
Mungkin kedengarannya agak pamrih. Tapi hal ini Anda lakukan demi membangun kegemaran membaca anak Anda. Beri tahu anak Anda bahwa Anda akan membelikannya sesuatu yang mereka inginkan di akhir bulan jika ia mampu menghabiskan satu buah buku. Atau yang lebih ketat lagi, Anda baru akan memberikannya uang mingguan atau bulanan jika dia mampu menghabiskan bahan bacaannya.

Kamis, 13 Juni 2013

Cara Menerima Telepon Dengan Laptop

Apakah Anda salah satu yang memiliki ponsel berteknologi Windows Phone? Saat Anda membeli ponsel Windows Phone, seperti contoh Nokia Lumia 900, Anda mungkin menganggap bahwa fitur Bluetooth pada ponsel ini tidak seberapa. Ya, ponsel Windows Phone berkoneksikan seri Bluetooth yang masih A2DP. Fitur Bluetooth pada Windows Phone memang tidak memungkinkan transfer file (FTP) karena keterbatasannya. Namun demikian, Anda masih dapat memanfaatkan fasilitas Bluetooth ini untuk kepentingan lainnya.

Memanfaatkan Fitur Bluetooth pada Windows Phone

Fitur bluetooh pada ponsel Windows Phone dapat digunakan untuk tiga hal yakni Phonebook AccessRemote Controlable Device dan Handsfree Telephony Gateway. Namun demikian, sedikit dari para pengguna ponsel berteknologi Windows Phone ini mengetahui bahwa ponsel mereka dapat menerima telepon dari PC (Personal Computer) dan laptop.
Bagi Anda yang sibuk di kantor atau urusan lainnya, menerima telepon lewat ponsel terkadang sering mengganggu. Selain telinga menjadi panas karena tertempel dengan ponsel langsung, baterei ponsel pun harus segera diisi kembali karena kehabisan energy, terutama bagi smartphones yang biasanya boros baterei. Selain itu, menerima telepon lewat ponsel akan mengganggu Anda dalam bekerja hal lain, seperti mengetik di laptop misalnya. Walaupun terdapat handsfree sebagai fasilitas Anda dalam menerima telepon lewat ponsel, namun agaknya kurang praktis jika Anda harus mengetik sambil memangku atau mengantongi handphone Anda.
Untuk itu, fasilitas Bluetooth pada Windows Phone Anda dapat Anda manfaatkan untuk menerima telepon lewat PC sehingga sembari Anda mengetik Anda tetap dapat nyaman bercakap-cakap lewat ponsel Anda.
Adapun peralatan yang harus Anda sediakan adalah ponsel Windows Phone Anda, headset, dan tentu saja PC atau laptop yang mendukung fasilitas Bluetooth di dalamnya.

Cara Menerima Telepon Lewat PC dengan Menggunakan Bluetooth

windows-phone-2
Berikut ini langkah-langkah yang dapat Anda lakukan :
  1. Aktifkan Bluetooth baik di ponsel maupun PC Anda.
  2. Add Device dan biarkan PC Anda mendeteksi Bluetooth ponsel.
  3. Setelah Bluetooth ponsel Anda terdeteksi, maka tinggal koneksikan keduanya. Biasanya Anda akan diminta untuk mengetikkan passcode di ponsel sesuai dengan yang tertera di PC.
  4. Ketikkan nomor kode tersebut.
  5. Pada layar PC Anda akan keluar jendela Bluetooh Windows Phone.
  6. Jika layar Anda sdah connected maka berarti Anda dapat menerima telepon saat itu juga.
  7. Anda juga dapat menelepon kontak dengan cara mengklik dial phone atau menghubungi nomor telepon pada daftar kontak ponsel dengan melakukan sinkronisasi (klik sync) terlebih dahulu.
Nah, kini Anda sudah siap bertelepon ria dengan kerabat Anda lewat PC. Terasa lebih nyaman bukan? Anda pun dapat bertelepon sembari mengetik atau sekedar browsing di laptop Anda. Selamat mencoba!

Rabu, 10 April 2013

STRATEGI PEMBELAJARAN


 STRATEGI PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING
Oleh : Miftakhuddin, S.Ag. MA

A. Latar Belakang
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merobah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik. Kondisi riil anak seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik. Hal ini terlihat dari perhatian sebagian guru/pendidik yang cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan metode pengajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung.
Pembelajaran yang kurang memperhatikan perbedaan individual anak dan didasarkan pada keinginan guru, akan sulit untuk dapat mengantarkan anak didik ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti inilah yang pada umumnya terjadi pada pembelajaran konvensional. Konsekuensi dari pendekatan pembelajaran seperti ini adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar, sehingga sistem belajar tuntas terabaikan. Hal ini membuktikan terjadinya kegagalan dalam proses pembelajaran di sekolah.
Menyadari kenyataan seperti ini para ahli berupaya untuk mencari dan merumuskan strategi yang dapat merangkul semua perbedaan yang dimiliki oleh anak didik. Strategi pembelajaran yang ditawarkan adalah strategi belajar aktif (active learning strategy).
B. Strategi Pembelajaran Aktif (Active Learning Strategy)
1. Pengertian
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian anak didik berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Penelitian Pollio (1984) menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sementara penelitian McKeachie (1986) menyebutkan bahwa dalam sepuluh menit pertama perthatian siswa dapat mencapai 70%, dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir.
Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang sering terjadi di lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama disebabkan anak didik di ruang kelas lebih banyak menggunakan indera pendengarannya dibandingkan visual, sehingga apa yang dipelajari di kelas tersebut cenderung untuk dilupakan. Sebagaimana yang diungkapkan Konfucius:
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya lihat, saya ingat
Apa yang saya lakukan, saya paham
Ketiga pernyataan ini menekankan pada pentingnya belajar aktif agar apa yang dipelajari di bangku sekolah tidak menjadi suatu hal yang sia-sia. Ungkapan di atas sekaligus menjawab permasalahan yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran, yaitu tidak tuntasnya penguasaan anak didik terhadap materi pembelajaran.
Mel Silberman (2001) memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius di atas menjadi apa yang disebutnya dengan belajar aktif (active learning), yaitu :
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit
Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham
Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan
Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai
Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu jawaban yang menarik adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan bicara guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per menit, sementara anak didik hanya mampu mendengarkan 50-100 kata per menitnya (setengah dari apa yang dikemukakan guru), karena siswa mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir. Kerja otak manusia tidak sama dengan tape recorder yang mampu merekam suara sebanyak apa yang diucapkan dengan waktu yang sama dengan waktu pengucapan. Otak manusia selalu mempertanyakan setiap informasi yang masuk ke dalamnya, dan otak juga memproses setiap informasi yang ia terima, sehingga perhatian tidak dapat tertuju pada stimulus secara menyeluruh. Hal ini menyebabkan tidak semua yang dipelajari dapat diingat dengan baik.
Penambahan visual pada proses pembelajaran dapat menaikkan ingatan sampai 171% dari ingatan semula. Dengan penambahan visual di samping auditori dalam pembelajaran kesan yang masuk dalam diri anak didik semakin kuat sehingga dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan hanya menggunakan audio (pendengaran) saja. Hal ini disebabkan karena fungsi sensasi perhatian yang dimiliki siswa
saling menguatkan, apa yang didengar dikuatkan oleh penglihatan (visual), dan apa yang dilihat dikuatkan oleh audio (pendengaran). Dalam arti kata pada pembelajaran seperti ini sudah diikuti oleh reinforcement yang sangat membantu bagi pemahaman anak didik terhadap materi pembelajaran.
Penelitian mutakhir tentang otak menyebutkan bahwa belahan kanan korteks otak manusia bekerja 10.000 kali lebih cepat dari belahan kiri otak sadar. Pemakaian bahasa membuat orang berpikir dengan kecepatan kata. Otak limbik (bagian otak yang lebih dalam) bekerja 10.000 kali lebih cepat dari korteks otak kanan, serta mengatur dan mengarahkan seluruh proses otak kanan. Oleh karena itu sebagian proses mental jauh lebih cepat dibanding pengalaman atau pemikiran sadar seseorang (Win Wenger, 2003:12-13). Strategi pembelajaran konvensional pada umumnya lebih banyak menggunakan belahan otak kiri (otak sadar) saja, sementara belahan otak kanan kurang diperhatikan. Pada pembelajaran dengan Active learning (belajar aktif) pemberdayaan otak kiri dan kanan sangat dipentingkan.
Thorndike (Bimo Wagito, 1997) mengemukakan 3 hukum belajar, yaitu :
1. law of readiness, yaitu kesiapan seseorang untuk berbuat dapat memperlancar hubungan antara stimulus dan respons.
2. law of exercise, yaitu dengan adanya ulangan-ulangan yang selalu dikerjakan maka hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lancar
3. law of effect, yaitu hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik jika dapat menimbulkan hal-hal yang menyenangkan, dan hal ini cenderung akan selalu diulang.
Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pemberian stimulus-stimulus kepada anak didik, agar terjadinya respons yang positif pada diri anak didik. Kesediaan dan kesiapan mereka dalam mengikuti proses demi proses dalam pembelajaran akan mampu menimbulkan respons yang baik terhadap stimulus yang mereka terima dalam proses pembelajaran. Respons akan menjadi kuat jika stimulusnya juga kuat. Ulangan-ulangan terhadap stimulus dapat memperlancar hubungan antara stimulus dan respons, sehingga respons yang ditimbulkan akan menjadi kuat. Hal ini akan memberi kesan yang kuat pula pada diri anak didik, sehingga mereka akan mampu mempertahankan respons tersebut dalam memory (ingatan) nya. Hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik kalau dapat menghasilkan hal-hal yang menyenangkan. Efek menyenangkan yang ditimbulkan stimulus akan mampu memberi kesan yang mendalam pada diri anak didik, sehingga mereka cenderung akan mengulang aktivitas tersebut. Akibat dari hal ini adalah anak didik mampu mempertahan stimulus dalam memory mereka dalam waktu yang lama (longterm memory), sehingga mereka mampu merecall apa yang mereka peroleh dalam pembelajaran tanpa mengalami hambatan apapun.
Active learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dengan memberikan strategi active learning (belajar aktif) pada anak didik dapat membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran dengan sukses. Hal ini kurang diperhatikan pada pembelajaran konvensional.
Dalam metode active learning (belajar aktif) setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar murid dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. (Mulyasa, 2004:241)
Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa perbedaan antara pendekatan pembelajaran Active learning (belajar aktif) dan pendekatan pembelajaran konvensional, yaitu :
Pembelajaran konvensional Pembelajaran Active learning
Berpusat pada guru Berpusat pada anak didik
Penekanan pada menerima pengetahuan Penekanan pada menemukan
Kurang menyenangkan Sangat menyenangkan
Kurang memberdayakan semua Membemberdayakan semua
indera danpotensi anak didik indera dan potensi anak didik
Menggunakan metode yang monoton Menggunakan banyak metode
Kurang banyak media yang digunakan Menggunakan banyak media
Tidak perlu disesuaikan dengan Disesuaikan dengan
Pengetahuan yang sudah ada pengetahuan yang sudah ada
Perbandingan di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan dan alasan untuk menerapkan strategi pembelajaran active learning (belajar aktif) dalam pembelajaran di kelas.
Selain itu beberapa hasil penelitian yang ada menganjurkan agar anak didik tidak hanya sekedar mendengarkan saja di dalam kelas. Mereka perlu membaca, menulis, berdiskusi atau bersama-sama dengan anggta kelas yang lain dalam memecahkan masalah. Yang paling penting adalah bagaimana membuat anak didik menjadi aktif, sehingga mampu pula mengerjakan tugas-tugas yang menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi, seperti menganalisis, membuat sintesis dan mengevaluasi. Dalam konteks ini, maka ditawarkanlah strategi-strategi yang berhubungan dengan belajar aktif. Dalam arti kata menggunakan teknik active learning (belajar aktif) di kelas menjadi sangat penting karena memiliki pengaruh yang besar terhadap belajar siswa.
2. Aplikasi Active learning (belajar aktif) dalam Pembelajaran
L. Dee Fink (1999) mengemukakan model active learning (belajar aktif) sebagai berikut.
Dialog dengan diri sendiri adalah proses di mana anak didik mulai berpikir secara reflektif mengenai topik yang dipelajari. Mereka menanyakan pada diri mereka sendiri mengenai apa yang mereka pikir atau yang harus mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan mengenai topik yang dipelajari. Pada tahap ini guru dapat meminta anak didik untuk membaca sebuah jurnal atau teks dan meminta mereka menulis apa yang mereka pelajari, bagaimana mereka belajar, apa pengaruh bacaan tersebut terhadap diri mereka.
Dialog dengan orang lain bukan dimaksudkan sebagai dialog parsial sebagaimana yang terjadi pada pengajaran tradisional, tetapi dialog yang lebih aktif dan dinamis ketika guru membuat diskusi kelompok kecil tentang topik yang dipelajari.
Observasi terjadi ketika siswa memperhatikan atau mendengar seseorang yang sedang melakukan sesuatu hal yang berhubungan dengan apa yang mereka pelajari, apakah itu guru atau teman mereka sendiri
Doing atau berbuat merupakan aktivitas belajar di mana siswa berbuat sesuatu, seperti membuat suatu eksperimen, mengkritik sebuah argumen atau sebuah tulisan dan lain sebagainya.
Ada banyak metode yang dapat digunakan dalam menerapkan active learning (belajar aktif) dalam pembelajaran di sekolah. Mel Silberman (2001) mengemukakan 101 bentuk metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran aktif. Kesemuanya dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan jenis materi dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai oleh anak. Metode tersebut antara lain Trading Place (tempat-tempat perdagangan), Who is in the Class?(siapa di kelas), Group Resume (resume kelompok), prediction (prediksi), TV Komersial, the company you keep (teman yang anda jaga), Question Student Have (Pertanyaan Peserta Didik), reconnecting (menghubungkan kembali), dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan ini penulis mencoba menyajikan beberapa model pembelajaran aktif yang disajikan Silberman.
Question Student Have (Pertanyaan Peserta Didik)
Metode Question Student Have ini digunakan untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan anak didik sebagai dasar untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Metode ini menggunakan sebuah teknik untuk mendapatkan partisipasi siswa melalui tulisan. Hal ini sangat baik digunakan pada siswa yang kurang berani mengungkapkan pertanyaan, keinginan dan harapan-harapannya melalui percakapan.
Prosedur :
1. Bagikan kartu kosong kepada siswa
2. Mintalah setiap siswa menulis beberapa pertanyaan yang mereka miliki tentang mata pelajaran atau sifat pelajaran yang sedang dipelajari
3. Putarlah kartu tersebut searah keliling jarum jam. Ketika setiap kartu diedarkan pada peserta berikutnya, peserta tersebut harus membacanya dan memberikan tanda cek di sana jika pertanyaan yang sama yang mereka ajukan
4. Saat kartu kembali pada penulisnya, setiap peserta telah memeriksa semua pertanyaan yang diajukan oleh kelompok tersebut. Fase ini akan mengidentifikasi pertanyaan mana yang banyak dipertanyakan. Jawab masing-masing pertanyaan tersebut dengan :
a. Jawaban langsung atau berikan jawaban yang berani
b. Menunda jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai waktu yang tepat
c. Meluruskan pertanyaan yang tidak menunjukkan suatu pertanyaan
5. Panggil beberapa peserta berbagi pertanyaan secara sukarela, sekalipun pertanyaan mereka tidak memperoleh suara terbanyak
6. Kumpulkan semua kartu. Kartu tersebut mungkin berisi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dijawab pada pertemuan berikutnya.
Variasi :
1. Jika kelas terlalu besar dan memakan waktu saat memberikan kartu pada siswa, buatlah kelas menjadi sub- kelompok dan lakukan instruksi yang sama. Atau kumpulkan kartu dengan mudah tanpa menghabiskan waktu dan jawab salah satu pertanyaan
2. Meskipun meminta pertanyaan dengan kartu indeks, mintalah peserta menulis harapan mereka dan atau mengenai kelas, topik yang akan anda bahas atau alasan dasar untuk partisipasi kelas yang akan mereka amati.
3. Variasi dapat pula dilakukan dengan meminta peserta untuk memeriksa dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh kelompok tersebut, sehingga fase ini akan dapat mengidentifikasi pertanyaan mana yang mendapat jawaban terbanyak, sebagai indikasi penguasaan anak terhadap objek yang dipertanyakan.
Reconnecting (menghubungkan kembali)
Metode reconnecting (menghubungkan kembali) ini digunakan untuk mengembalikan perhatian anak didik pada pelajaran setelah beberapa saat tidak melakukan aktivitas tersebut.
Prosedur :
1. Ajaklah anak didik kembali kepada pelajaran. Jelaskan pada anak didik bahwa menghabiskan beberapa menit untuk mengaitkan kembali pelajaran dengan pengetahuan anak akan memberi makna yang berarti.
2. Tentukan satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan berikut ini kepada para peserta didik :
• Apa saja yang masih anda ingat tentang pelajaran terakhir kita ? apa saja yang masih bertahan dalam diri anda ?
• Sudahkah anda membaca / berpikir /melakukan sesuatu yang dirangsang oleh pelajaran terakhi kita ?
• Pengalaman menarik apa yang telah anda miliki di antara pelajaran-pelajaran?
• Apa saja yang ada dalam pikiran anda sekarang (misal nya sebuah kekhawatiran) yang mungkin mengganggu kemampuan anda untuk memberi perhatian pebuh terhadap pelajaran hari ini?
• Bagaimana perasaan anda hari ini? (Dapat dilakukan dengan memberikan metafor, seperti “Saya merasa bagaikan pisang busuk
3. Dapatkan respons dengan menggunakan salah satu format, seperti sub-kelompok atau pembicara dengan urutan panggilan berikutnya
4. Hubungkan dengan topik sekarang
Variasi :
1. Lakukan sebuah ulasan tentang pelajaran yang telah lalu
2. Sampaikan dua pertanyaan, konsep atau sejumlah informasi yang tercakup dalam pelajaran yang lalu. Mintalah peserta didik untuk memberikan suara terhadap sesuatu yang paling mereka sukai agar anda mengulas pelajaran tersebut. Ulaslah pertanyaan, konsep, atau informasi yang menang.
Pengajaran Sinergetik (Synergetic Teaching)
Metode ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada siswa membandingkan pengalaman-pengalaman (yang telah mereka peroleh dengan teknik berbeda) yang mereka miliki.
Prosedur :
a. Bagi kelas menjadi dua kelompok
b. Salah satu kelompok dipisahkan ke ruang lain untuk membaca topik pelajaran
c. Kelompok yang lain diberikan materi pelajaran yang sama dengan metode yang diinginkan oleh guru.
d. Pasangkan masing-masing anggota kelompok pembaca dan kelompok penerima materi pelajaran dari guru dengan tugas menyimpulkan/meringkas materi pelajaran.
Kartu Sortir (Card Sort)
Metode ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu objek, atau mengulangi informasi.
Prosedur :
a. Masing-masing siswa diberikan kartu indek yang berisi materi pelajaran. Kartu indek dibuat berpasangan berdasarkan definisi, kategori/kelompok, misalnya kartu yang berisi aliran empiris dengan kartu pendidikan ditentukan oleh lingkungan dll. Makin banyak siswa makin banyak pula pasangan kartunya.
b. Guru menunjuk salah satu siswa yang memegang kartu, siswa yang lain diminta berpasangan dengan siswa tersebut bila merasa kartu yang dipegangnya memiliki kesamaan definisi atau kategori.
c. Agar situasinya agak seru dapat diberikan hukuman bagi siswa yang melakuan kesalahan. Jenis hukuman dibuat atas kesepakatan bersama.
d. Guru dapat membuat catatan penting di papan tulis pada saat prosesi terjadi.
TRADING PLACE
Metode ini memungkinkan peserta didik lebih mengenal, tukar menukar pendapat dan mempertimbangkan gagasan, nilai atau pemecahan baru terhadap berbagai masalah.
Prosedur :
1. beri peserta didik satu atau lebih catatan-catatan Post-it (tentukan apakah kegiatan tersebut akan berjalan lebih baik dengan membatasi para peserta didik terhadap sebuah atau beberapa kontribusi)
2. mintalah mereka untuk menulis dalam catatan merea salah satu dari hal berikut :
a. sebuah nilai yang mereka pegang
b. sebuah pengalaman yang telah mereka miliki saat ini
c. sebuah ide atau solusi kreatif terhadap sebuah problema yang telah anda tentukan
d. sebuah pertanyaan yang mereka miliki mengenai persoalan dari mata pelajaran
e. sebuah opini yang mereka pegang tentang sebuah topik pilihan anda
f. sebuah fakta tentang mereka sendiri atau persoalan pelajaran
3. mintalah peseta didik menaruh (menempelkan) catatan tersebut pada pakaian mereka dan mengelilingi ruangan dengan atau sambil membaca tiap catatan milik peserta yang lain
4. kemudian, suruhlah para peserta didik berkumpul sekali lagi dan mengasosiasikan sebuah pertukaran catatan-catatan yang telah diletakkan pada tempatnya (trade of Post-it notes) satu sama lain. Pertukaran itu hendaknya didasarkan pada sebuah keinginan untuk memiliki sebuah nilai, pengalaman, ide, pertanyaan, opini atau fakta tertentu dalam waktu yang singkat. Buatlah aturan bahwa semua pertukaran harus menjadi dua jalan. Doronglah peserta didik untuk membuat sebanyak mungkin pertukaran yang mereka sukai.
5. kumpulkan kembali kelas tersebut dan mintalah para peserta didik berbagi pertukaran apa yang mereka buat dan mengapa demikian. (misalnya : Mita : “Saya menukar catatan dengan Sonya karena dia telah membuat catatan tentang perjalanan ke Eropa Timur. Saya menyukai perjalanan ke sana karena saya mempunyai nenek moyang yang berasal dari Hongaria dan Ukraina
WHO IN THE CLASS?
Metode ini digunakan untuk memecahkan kebekuan suasana dalam kelas. Teknik ini lebih mirip dengan perburuan terhadap teman-teman di kelas daripada terhadap benda. Strategi ini membantu perkembangan pembangunan team (team building) dan membuat gereakan fisik berjalan tepat pada permulaan gerakan fisik berjalan tepat pada permulaan sebuah perjalanan.
Prosedur:
1. Buatlah 6 sampau 10 pertanyaan deskriptif untuk melengkapi frase : Carilah seseorang yang…………
Suka/senang menggambar
Mengetahui apa yang dimaksud rebonding
Mengira bahwa hari ini akan hujan
Berperilaku baik
Telah mengerjakan PR
Punya semangat kuat dalam belajar
dll
2. Bagikan pernyataan-pernyataan itu kepada peserta didik dan berikah beberapaperintah berikut :
Kegiatan ini seperti sebuah perburuan binatang, kecuali bahwa anda mencari orang sebagai pengganti benda. Ketika saya berkata “mulai” kelilingilah ruangan dengan mencari orang-orang yang cocok dengan pernyataan ini. Anda bisa menggunakan masing-masing orang hanya untuk sebuah pernyataan, meskipun dia memiliki kecocokan lebih dari satu. Tulislah nama orang tersebut
3. ketika kebanyakan peserta didik telah selesai, beri tanda stop berburu dan kumpulkan kembali ke kelas.
4. guru dapat menawarkan sebuah hadiah penghargaan teradap orang yang selesai pertama kali. Yang lebih penting surveilah kelas tersebut. Kembangkan diskusi singkat tentang beberapa bagian yang mungkin merangsang perhatian dalam topik pelajaran.
Resume kelompok
Teknik resume secara khusus menggambarkan sebuah prestasi , kecakapan dan pencapaian individual, sedangkan resume kelompok merupakan cara yang menyenangkan untuk membantu para peserta didi lebih mengenal atau melakukan kegiatan membangun tem dari sebuah kelompok yang para anggotanya telah mengenal satu sama lain.
Prosedur :
1. Bagilah peserta didik ke dalam kelompok sekitar 3 sampai 6 anggota
2. beritahukan kelas itu bahwa kelas berisi sebuah kesatuan bakat dan pengalaman yang sangat hebat
3. sarankan bahwa salah satu cara untuk mengenal dan menyampaikan sumber mata pelajaran adalah dengan membuat resume kelompok.
4. berikan kelompok cetakan berita dan penilai untuk menunjukkan resume mereka. Resume tersebut seharusnya memasukkan beberapa informasi yang bisa menjual kelompok tersebut secara keseluruhan. Data yang disertakan bisa berupa :
latar belakang pendidikan; sekolah-sekolah yang dimasuki
pengetahuan tentang isi pelajaran
pengalaman kerja
posisi yang pernah dipegang\keterampilan-keterampilan
hobby, bakat, perjalanan, keluarga
prestasi-prestasi
5. ajaklah masing-masing kelompok untuk menyampaikan resumenya
PREDICTION (PREDIKSI)
Metode ini dapat membantu para siswa menjadi kenal satu sama lain
Prosedur :
1. bentuklah sub-sub kelompok dari 3 sampai 4 orang siswa (yang relatif masih asing satu sama lain)
2. beritahukan pada peserta didik bahwa pekerjaan mereka adalah meramalkan bagaimana masing-masing orang dalam kelompoknya akan menjawab pertanyaan tertentu yang telah dipersiapkan untuk mereka, seperti :
a. kamu menyukai musik apa?
b. Apa di antara kegiatan waktu luang favorit anda?
c. Berapa jam kamu bisa tidur malam?
d. Berapa saudara kandung yang kamu miliki dan kamu berada pada urutan berapa?
e. Di mana kamu dibesarkan?
f. Seperti apa kamu ketika masih kecil?
g. Apakah orang tua kamu bersikap toleran atau ketat?
h. Pekerjaan apa yang telah kamu miliki?
3. mintalah sub-sub kelompok mulai dengan memilih satu orang sebagaoi subyek pertamanya. Dorong anggota kelompok se spesifik mungkin dalam prediksi mereka mengenai orang itu. Beritahukan mereka agar tidak takut tentang tebakan-tebakan yang berani.
4. mintalah masing-masing anggota kelompok bergiliran sebagai orang fokus/utama.
Tv Komersial
Metode ini dapat menghasilkan pembangunan team (team building) yang cepat
Prosedur :
1. bagilah peserta didik ke dalam team yang tidak lebih dari 6 anggota
2. mintalah team-team membuat iklan TV 30 detik yang meniklankan masalah pelajaran dengan menekankan nilainya bagi meraka atau bagi dunia
3. iklan hendaknya berisi sebuah slogan (sebagai contoh “Lebih baik hidup dengan ilmu Kimia”) dan visual (misalnya, produk-produk kimia terkenal)
4. jelaskan bahwa konsep umum dan sebuah outline dari iklan tersebut sesuai. Namun jika team ingin memerankan iklannya, hal tersebut baik juga.
5. sebelum masing-masing team mulai merencanakan iklannya, maka diskusikan karakteristik dari beberapa iklan yang saat ini terkenal untuk merangsang kreatifitas (misalnya penggunaan sebuah kepribadian terkenal, humor, perbandingan terhadap persaingan, daya tarik sex)
6. mintalah masing-masing team menyampaikan ide-idenya. Pujilah kreatifitas setiap orang.
The Company You Keep
Metode ini digunakan untuk membantu siswa sejak awal agar lebih mengenal satu sama lain aktivitas kelas bergerak dengan cepat dan amat menyenangkan.
Prosedur :
1. buatlah datar kategori yang anda pikir mungkin tepat dalam sebuah kegiatan untuk lebih mengenal pelajaran yang anda ajar. Kategori-kategori tersebut meliputi :
a. bulan kelahiran
b. orang yang suka atau tidak suka suatu objek
c. kesukaan seseorang
d. tangan yang digunakan untuk menulis
e. warna sepatu
f. setuju atau tidak dengan beberapa pernyataan opini tentang sebuah isi hangat (misalnya “Jaminan pemeliharaan kesehatan hendaknya bersifat universal”)
Catatan: Kategori dapat pula dikaitkan langsung dengan materi pelajaran yang diajarkan
2. bersihkan ruang lantaiagar peserta didik dapat berkeliling dengan bebas
3. sebutkan sebuah kategori. Arahkan para peserta didik untuk menentukan secepat mungkin semua orang yang akan mereka kaitkan dengan kategori yang ada. Misal para penulis dengan tangan kanan dan penulis dengan tangan kiri akan terpisah menjadi dua bagian.
4. ketika para peserta didik telah membentuk kelompok-kelompok yang tepat, mintalah mereka berjabatan tangan dengan teman yang mereka jaga. Ajaklah semua untuk mengamati dengan tepat berapa banyak otang yang ada di dalam kelompok-kelompok yang berbeda.
5. lanjutkan segera pada kategori berikutnya. Jagalah peserta didik tetap bergerak dari kelompok ke kelompok ketika anda mengumumkan kategori-kategori baru.
6. kumpulkan kembali seluruh kelas. Diskusikan perbedaan peserta didik yang muncul dari latihan itu. (http://edu-articles.com/)

DAFTAR BACAAN
Bonwell, Charles C., dan James A. Eison, Active Learning: Creating Excitement in the Classroom, http://www.gwu.edu/eriche.
Dee Fink, L., Active Learning, reprinted with permission of the Oklahoma Instructional Development Program, 1999, http://www.edweb.sdsu.edu/people/bdodge/Active/ActiveLearning.html
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, Rineka Cipta, 2002.
McKeachie W., Teaching Tips: A Guidebook for the Beginning College Teacher, Boston, D.C. Health, 1986.
Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Konsep, Karakteristik dan Implementasi, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2004.
Pollio, H.R., “What Students Think About and Do in College Lecture Classes” dalam Teaching-Learning Issues No. 53, Knoxville, Learning Research Centre, University of Tennesse, 1984.
Silberman, Mel, Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (terjemahan Sarjuli et al.) Yogyakarta, YAPPENDIS, 2004.
Walgito, Bimo, Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta, Andi Offset, 1997.
Wenger, Win, Beyond Teaching and Learning, Memadukan Quantum Teaching & Learning, (terjemahan Ria Sirait dan Purwanto), Nuansa, 2003.
Yamin, Martinis, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, Jakarta, Gaung Persada Press, 2003.